Sampai di rumah, Rani mendapati ibunya sedang marah-marah entajh
ditujukkan kesiapa, namun ketika ibunya
melihat kedatangan Rani, Rani tak luput jadi bulan-bulanan kemarahan ibunya
Ibu: “dari mana saja kamu Rani? udah tau ibu banyak
kerjaan bukannya cepat pulang dan cepat bantu ibu! malah keluyuran!” ibu
membentak Rani
Rani: “maaf bu, Rani ngga keluyuran, tadi Rani diam
dulu d sekolah” Rani membela diri dengan nada gugup
Ibu: “ahh
sudahlah beralasan aja bisanya, cepat ganti baju cuci piring-piring yang kotor”
Rani bergegas mengganti baju,
bermaksud hati untuk makan dulu sebelum mencuci piring, tapi setelah membuka
tutup saji di meja makan hanya ada nasi saja, Rani pun mengurungkan niatnya
untuk makan. “aku masak tempe saja nanti setelah mencuci piring”.. fikir Rani
Satu persatu piring dan
peralatan dapur yang Rani cuci, setengah melamun Rani meteskan air mata di
pipinya. Namun ia bergegas menghapusnya, dan tiba-tiba mangkok yang dipegangnya
jatuh dan pecah, dan mengenai jarinya. Rani kaget bukan kepalang, namun ia
tetap berusaha tenang. Ia mengambil pecahan mangkok tadi, mengumpulkannya dan
membuangnya ke tempat sampah, serta lekas mengobati dan membalut luka di
jarinya. Setelah semua pekerjaanya selesai Rani memunuhi hak perutnya yang
tengah kelaparan, dengan cekatan ia mengambil tempe di kulkas tak butuh waktu
lama, tempe putih disulap menjadi masakan yang mengugah selera.
Rani: “yeahhh this is it! Oseng-oseng tempe ala chef
Rani” Rani bergaya seperti chef Farah Queen di acara masak televisi.
Satu demi satu suapan masuk ke
dalam mulut Rani, betapa lahapnya dia menyantap karya masakannya itu. Tiba-tiba Ayah menghampiri Rani
Ayah: “Rani!
kenapa kamu mecahin mangkok?” Tanya Ayah terlihat marah
Rani: “Maaf Ayah, Rani ga sengaja, tadi tangan Rani
kebanyakan sabun jadi licin” Rani kaget bukan main melihat Ayahnya marah.
Ayah: “Sudah berapa kali kamu memecahkan barang,
hah? mampu kamu membelinya?” Ayah membentak Rani dan kemudian berlalu keluar
rumah
Rani: “……..” Rani hanya diam terpaku mendengar
kata-kata Ayahnya, dia tak menyangka Ayahnya akan mengeluarkan kata-kata itu
kepadanya, makanan yang tadinya menggugah selera, masih banyak tersisa di
piringnya.
Rani sudah tidak ingin
memakannya lagi, melihat makanan tadi seperti masakan di restoran mahal, namun
kini nampak seperti sepiring duri. Sisa makanan Rani yang tak habis ia berikan
pada ayam peliharaannya dibelakang rumah, melihat hari semakin sore ia bergegas
mandi dan menutup harinya dengan berada dikamar.
Rani berbaring diatas kasur dan memejamkan matanya, ia masih membayangkan apa yang Ayah dan Ibunya perbuat padanya hari ini. Ia menangis dengan tenang, tanpa suara, namun air mata mengalir begitu deras. Ia beranjak dari tempat tidur dan mengambil buku tulis bersampul biru, mengambil pulpen, dan menulis….
Senin, 8 Mei 2013
Dear Diary,
Fikiran jahat itu selalu ada, akan
selalu ada tatkala mereka bertindak kejam.. Fikiran jahat yang slalu
menghantuiku, disaat seperti ini aku selalu berfikir kalau aku bukanlah bagian
dari keluarga ini, apakah aku bukan anak orang tuaku ini?mereka seolah tidak
memberi ruang kasih kepadaku, mereka seolah tidak menginginkanku.....
Rani kembali berurai air mata, sampai ia terlelap dan tidur diatas
torehan tintanya itu, ia terlihat tegar ketika Ibu memarahi, ia terlihat biasa
saja ketika Ayah menghardik, tapi sesungguhnya ketika ia sendiri, ia menyadari
bahwa ia terlalu lemah dan hanya bisa menangis.
Keesokan harinya disekolah….
Dewi: “hai
Ran,tumben pagi, PR matematika udah?” Dewi datang menghampiri Rani
Rani: “Justru karena aku belum mengerjakan PR makanya
aku berusaha datang pagi” Rani menjawab dengan cengengesan.
Dewi: “uhhh dasar, ayo kerjakan sebelum bel masuk”
Rani bergegas mengerjakan PR, beruntung ia masih sempat menyelesaikannya
sebelum bel masuk sekolah berbunyi. Ketika pelajaran matematika berlangsung,
sedikit siswa dikelas yang memperhatikan Guru tersebut, perawakan kecil dengan
suara kecil dan sudah berumur cukup tua membuat anak-anak tidak bersemangat
mengikuti pelajarannya. Diam-diam Dewi memperhatikan mata Rani dan terlihat
bengkak dibagian atas kelopak matanya, ia penasaran dan merobek sedikit kertas
yang bertuliskan:
Ran mata kamu kenapa? nangis?…. Dewi melipat ketas itu dan memberikannya
kepada Rani.
Rani membaca surat kaleng itu secara diam-diam dan membalasnya:
iya, biasalah keluargaku Wi… aku disalahin, ayahku lebih sayang kepada mangkok daripada jariku yang terluka…
Dewi yang membaca balasan Rani merasa tertegun, ia mengerti apa yang
dirasakan Rani selama ini, ia memahami sulitnya menjadi Rani ditengah-tengah
keluarganya itu, iapun hanya membalas:
Sabar ya Ran, mudah-mudahan kesabaran kamu
selama ini membuahkan hasil.. karena menjadi indah itu tak akan pernah mudah
Rani
membaca balasan dari Dewi, ia tidak membalasnya lagi, namun hanya melihat
kearah Dewi tersenyum dan menganggukan perlahan kepalanya.
Dua
pelajaran telah usai, bel istirahat pertama telah berbunyi, Dewi dan Rani
keluar kelas untuk melaksanakan shalat Dhuha… Setelah selesai mereka duduk dan
menyandarkan diri mereka ke tiang selasar mesjid. Terlihat Rani menikmati
suasana disana, ia memejamkan mata, menghela nafas panjang dan terlihat
tersenyum. Dewi yang melihat temannya itu ikut merasakan ketenangan yang Rani
rasakan, entah apa yang ada difikiran Rani, namun keadaan itu dapat membuat
hatinya tenang atas apa yang ia rasakan sebelumnya.
Dewi: “Ran,
tunggu sebentar ya aku ke kantin”
Rani: “kamu mau
jajan sekarang?aku ikut” Rani beranjak dari tempatnya
Dewi: “Aku mau
beliin kamu eskrim, mau ikut?”
Rani: “wah ada
acara apa ini kamu traktir aku segala?”
Dewi: “tadi ada
saudaraku berkunjung, mereka memberiku uang jajan, aku berniat membelikan
eskrim kesukaanmu, tapi kalau kamu tidak mau ya tidak apa-apa” Dewi berkata
dengan nada meledek Rani
Rani: “eeh aku
mau kok, ayo ayo” Rani berjalan mendahului Dewi
Dewi: “wwoooo
yang mau nraktir siapa sih? kok kamu yang jalan duluan?”
Rani: “hahaha
maaf karena semangatnya, ayo pergi bareng”
Di kantin sekolah, ketika Dewi
dan Rani hendak membeli eskrim, mereka melihat gengs Rendi tanpa ada Robi sedang berkumpul, merek terlihat
menguasai kantin itu, hiruk pikuk kantin bersumber dari obrolan mereka. Rani
duduk di salah satu bangku kantin, menunggu Dewi membayarnya ke kasir,
tiba-tiba Robi datang, dengan gagahnya dia mengusir salah satu murid yang tengah
asyik menyantap bakso, Anton namanya, ia adik kelasku.
Tentu saja Anton tidak berani menolak, ia berdiri sambil memegang mangkok yang masih terisi bakso. Ia berdiri dan menyandar pada tembok kantin, tak ada bangku kosong untuk dia melanjutkan makan bakso, ia hanya berdiri bersandar pada tembok sambil memegang mangkok. Melihat Anton yang kikuk itu sontak saja gengs Rendi menertawakannya. Rani berdiri, dan melambaikan tangan pada Anton, Anton terlihat senang sekali, ia menghampiri dan Rani persilahkan ia duduk. Perilaku Rani itu dilihat oleh Rendi Cs mereka tampak kesal karena kesenangannya diganggu, terutama Robi, ia mengambil sebuah bakwan dari mejanya dan meleparkannya kepunggung Rani. Rani tak berani menoleh ataupun memberi perlawanan, ia tahu ia tak akan bisa berbuat apa-apa. Tak lama Dewi menghampirinya
Tentu saja Anton tidak berani menolak, ia berdiri sambil memegang mangkok yang masih terisi bakso. Ia berdiri dan menyandar pada tembok kantin, tak ada bangku kosong untuk dia melanjutkan makan bakso, ia hanya berdiri bersandar pada tembok sambil memegang mangkok. Melihat Anton yang kikuk itu sontak saja gengs Rendi menertawakannya. Rani berdiri, dan melambaikan tangan pada Anton, Anton terlihat senang sekali, ia menghampiri dan Rani persilahkan ia duduk. Perilaku Rani itu dilihat oleh Rendi Cs mereka tampak kesal karena kesenangannya diganggu, terutama Robi, ia mengambil sebuah bakwan dari mejanya dan meleparkannya kepunggung Rani. Rani tak berani menoleh ataupun memberi perlawanan, ia tahu ia tak akan bisa berbuat apa-apa. Tak lama Dewi menghampirinya
Dewi: “ni
eskrimnya Ran!”
Rani: “ayo ke
kelas”
Dewi: “loh es
krimnya ga di makan?” Tanya Dewi heran
Rani: “Dikelas
saja” Rani menarik tangan Dewi dan bergegas ke kelas
Di kelas, Rani menceritakan ulah
Robi tadi kepada Dewi.
Dewi : “seragam
kamu kena minyak deh Ran”
Rani : “pastilah
Wi, yang dilempar kan bakwan”
Dewi :
“mudah-mudahan bisa ilang ya nodanya, sini ak bersiin sementara pake tisu
basah”
Rani : “iya
nanti aku langsung rendem seragamnya mudah-mudahan ilang”
Dewi : “kamu ga
ngelawan Ran, tadi di lempar gitu?”
Rani : “gimana
aku mau ngelawan Wi, mereka banyakan, aku sendirian”
Dewi : “iya juga sih, tapi kan kamu juga bisa nanya
kenapa atau ada apa gitu pura-pura kamu ga tau kelakuan mereka sebelumnya, biar
clear”
Rani : justru aku mengindari mereka melihat jelas
wajah aku Wi, aku takut mereka dendam berkelanjutan, makanya aku ga noleh pas
si Robi ngelempar bakwan”
Dewi : “cerdas,
hahahah.. jadi superhero nih ceritanya?” Dewi meledek Rani
Rani hanya tersenyum dan memakan eskrim tadi, ia bergumam “Aku bukanlah
superhero yang memiliki kekuatan untuk mengalahkan musuh-musuhnya, tapi, tak
perlu jadi superhero untuk membela kebenaran dan menumpas kejahatan”.
0 komentar:
Posting Komentar