lanjutan....
“dok anak saya gimana
perkembangannya?”
“masih belum stabil bu, demamnya
juga masih turun naik”
“katanya anak saya sakit sepsis
dok, dari apa ya?”
“banyak faktor sih bu, ini kan
anaknya udah beberapa hari dirumah mungkin saja dari faktor lingkungan, bisa
saja maaf ya bu mungkin yang megang bayi tangannya kotor banget atau air yang
dipakai kotor banget, itu baru ada bakteri”
Saya belum bisa menerima
pernyataan dokter tersebut, karena lingkungan kami cukup bersih, air yang
digunakan air mengalir, dan bayi dimandikan dengan air hangat, kalo disebut
tangan yang kotor banget dan air yang kotor banget, kayaknya engga mungkin.
Tapi saya teringat dengan paraji yang
memasukan tangannya dan memecahkan ketuban saya, disana saya mulai berprasangka
buruk, mungkinkah tangan paraji itu kotor? (astaghfirulloh maafkan hamba yang
bersuudzon)
Dirawat di NICU anak saya tetap
tidak stabil, dan saat ditanya dokter hanya menjawab “bantu doa ya bu” dan
jawaban yang sama terhadap pasien lainnya.
Tiga kali anak saya mengalami
masa kritis, sempat tigakali kehilangan nafas, dipompa kembali oleh dokter tak
tahu berapa kali saya menangisi anak saya, cobaan terberat dalam hidup saya,
dalam keadan sedih itu, mama saya tak kuasa melihat saya menangis, kami menangis
bersama.
Saya sempat bertanya kembali
kepada dokter anak sebetulnya kenapa bisa sepsis? Dan jawabannya tetap sama,
lingkungan yang kotor, jawaban yang saya dan keluarga saya untuk terus berfikir
dan menduga-duga, saya pun sempat bertanya perihal susu formla yang pertama
kali diberikan
“dok, sepsis bisa karena susu
formula itu ga sih dok?”
“bisa juga, apa pas perawatan
sebelumnya dikasih susu formula ga yah diruangan peri (peritologi)?”
“gatau dok”, jawab saya lemas,
disana saya ingin membentak dokter rasanya, yang tahu perihal perawatan anak
kan tim medis, harusnya mereka lebih hati-hati dalam memberikan apapun kepada
pasien, kok bisa-bisanya dokter bertanya kepada saya yang artinya beliau tidak
begitu memantau tentang apa yang diberikan kepada anak saya.
Ketidak tahuan dokter tentang
pemberian susu formula terus mengganggu pikiran saya, dan sayapun sempat
berbicara kepada perawat
“teh, asi saya kan sedikit
(karena strees jadi asi yang keluar hanya sedikit) nanti kalau mau ngasiin susu
ke ade, jangan yang sufor (susu formula) biasa ya, pas awal dirawat soalnya
takutnya karena alergi sufor”
“kata siapa alergi sufor bu?”
Deg, saya sempat diam sejenak,
berarti ini perawat juga ngga tau ya tentang rekam medis anak saya dari awal,
padahal kala itu udah 3 minggu lebih di NICU.
“kata dokter anaknya teh” jawab
saya singkat
“oh iya bu, disini ada susu untuk
alergi jadi nanti dikasih susu khusus”
Agak lega ternyata tersedia susu
untuk alergi protein sapi, tapi kalau perawat baru tahu sekarang, apa kabar
kemaren-kemaren? Apalagi setiap anak saya dipuasakan atau mulai diberi susu
tidak pernah diberitahukan. Saya tahu anak saya sudah mulai diberi susu ketika
jadwal besuk saja, intinya apabila anak mengalami kemajuan dalam kesehatannya
tidak pernah diinfokan kepada penunggu pasien, tetapi apabila anak sedang
kritis, hasil pemeriksaan (lab, scan, usg dll) jelek atau mengalami drop kita segera dipanggil. Itulah
mengapa kita harus sering-sering cerewet,
sampai suami saya mendapat celetukan dari salah satu perawat dengan
mengatakan “bapak ini cerewet banget” saya ga peduli, yang penting anak saya
terawat dengan baik.
Sebetulnya saya bukan tipe orang
yang banyak bicara, saya lebih ingin menggali informasi saja, tetapi karena
beberapa kali saya mendapati keteledoran perawat, mulai dari botol asi yang
dibiarkan terbuka, dan ketika ditegur jawabannya lupa ditutup kembali, pempers
yang belum diganti, sampai pupnya penuh terlihat keluar, dan infusan macet
sampai tangan anak saya bengkak (ini parah sih)
Pernah ketika anak saya dipasang
alat pernafasan lewat mulut langsung ke tenggorokan, saya lihat posisi kepala
anak saya menghadap keatas (nenggak) terus dari tadi pagi saat besuk pertama,
sayapun berbicara edngan perawat
“bu, ini si dede kok posisinya
gini terus ya? Apa engga pegel dia? Biasanya dipindah-pindah posisi badannya
dimirngkan ke kiri atau kanan”
“ini bu, saya gabisa mindahinnya,
gabisa megangin atau mindahin alatnya takut goyang”
“ooh” cemaslah saya disana,
kenapa sampai ada perawat yang berkata seperti itu, jadi perawat ini bisanya
apa? Ganti pempers aja? (inginku berkata kasar.. tapi segera beristighfar)
Saya hanya bisa mencurahkan
unek-unek saya dengan keluarga pasien yang lain dan ternyata mereka juga
mengalami ke khawatiran yang saya rasakan, mereka tidak berani mencereweti karena mereka takut apabila
dianggap jelek atau jadi bahan omongan perawat, anaklah (pasien) yang menjadi
korban.
Saya mendengarkan pernyataan
mereka, darisana sayapun mulai merenung, “iya juga ya, kalo saya terlalu ini
itu nanti anak saya dibiarin lagi” dari sana saya agak meredam perkataan.
Hari demi hari anak saya tidak
kunjung membaik, malah terlihat perutnya buncit, “ah ini ginjal dan hatinya
kayaknya kena,” kata saya kepada suami, banyak indikasi yang terlihat, seperti
mata kuning, perut buncit dan seharian tidak pup dan pipis ketika saya bertanya
kepda perawat.
Saya memberanikan diri “mencegat” dokter yang keluar ruangan
setelah melakukan visit
“dok, anak saya gimana ya?”
“doain aja ya bu, sekarang anak
bapak – ibu udah saya ganti antibiotiknya karena yang kemaren-kemaren tidak
mempan, antibiotiknya yang bagus, RSUD ini memang RS kelas C, semua serba
terbatas, obat-obat juga prosesnya lama didapetinnya karena BPJS ga kaya di
Jakarta, tapi saya bantu semaksimal mungkin ya bu, pak”
Kaget saya mendengar pernyataan
dokter, Kelas C? saya gatau tentang itu, kalau disini serba terbatas saya
menyesal dari awal tidak mendengarkan kata kakak saya agar dirawat di Tasik
(setelah saya browsing ternyata RSUD Tasik kelas B) BPJS? Apa yang salah dengan
BPJS? Anak saya menggunakan BPJS setelah beberapa hari di NICU, itupun atas
saran Bu Haji (kepala perawat) padahal saat itu kami malas mengurus pendaftaran
BPJS anak karena ingin focus di RS saja, namun karena anak saya sudah
didaftarkan BPJS saat sebelum lahir makanya kami manfaatkan juga, sebelumnya
kami menggunakan perwatan kelas umum dan pada waktu dipindah dari umum ke BPJS
saya membayar biaya perawatan umum hamper 10 juta kurang lebih untuk 10 hari, 7
hari di peritologi dan 3 hari di NICU.
Terkait obat yang tidak optimal
karena terhalang BPJS, apa tidak bisa di bicarakan antara pihak dokter dengan
kami? Apabila tidak tercover BPJS kan bisa kami beli sendiri, toh sebelum
menggunakan BPJS semua biaya, obat dan lain-lain kami juga beli dan bayar sendiri
kan?
“dok apa dipindah kerumah sakit
lain aja ya?” tanya saya
“bisa saja bu kalo ibu berkenan
tapi saya tidak menjamin dijalan tidak akan apa-apa”
“coba kalau waktu itu ya dok
dirujuknya, (sebelum dirawat di NICU)” kata suami
“tetap aja beresiko pak, kalau
dulu saya rujuk dan ada apa-apa dijalan mungkin bapak bakalan lebih ngamuk ke
saya ya, karena anaknya terlihat sehat-sehat saja, beda dengan sekarang, ibu
bapak sudah mau pasrah kan?”
Sebagian lain mungkin ada
benarnya, tapi saya menyesal merasa tidak memberikan yang terbaik pada anak
saya,
“dok, Hasil lab darah awal itu
gimana?” teringat tentang hasil lab darah yang tidak saya ketahui
“bu, pemeriksaan kalo saya gacuma
darah sama rontgen saja, saya cek bab anak ibu itu positif amoeba, dan anak
kenak amoeba itu kalo SD lah, ini bayi baru lahir trus ada amoeba itu udah
jelek banget keadaannya”
“bukan karena pembekuan darahnya
ga normal ya dok? Teringat dengan dokter anak yang pertama yang ebrgumam
tentang pembekuan darah
“bukan kok bu” jawab dokter tersebut
“dok kenapa bisa jadi parah ya
bayi nya? Padahal tiap hari saya suka nanya ke perawat, dan kata perawat bab
nya makin hari normal, kondisinya juga membaik” tanya saya yang masih terus
penasaran,
“bu, namanya juga perawat (gatau
apa-apa)” jawab dokter tersebut,
Tak terasa kita berbincang sambil
berjalan dan sudah sampai di pintu gerbang keluar, saat itu dokter anak tampak
buru-buru maka kami tidak meneruskan pembicaraan
“ah iya, perawat tidak tahu
apa-apa, lalu tidak bisakah perawat sebagai akses kami mendapat informasi yang
valid? Menjembatani antara kami (keluarga psien) dengan dokter? Mengingat susah
sekali untuk konsultasi dengan dokter, dengan keterbatasan jumlah dokter anak
dan waktu.
Saya sengaja menanyakan tentang
tes darah, tapi tetap tidak mendapatkan jawaban, dan dari informasi hasil
browsing di internet, sepsis juga bisa timbul dari peralatan rumah sakit, itu
yang tidak pernah dibahas oleh semua tim medis. Mereka hanya menerangkan
bakteri dari air yang kotor dan tangan yang kotor sekali, pernyataan yang terus
berulang.
(bersambung)...
0 komentar:
Posting Komentar