Lanjutan....
Siang harinya suami saya
dipanggil perawat untuk meminta darah ke PMI anak kami akan di transfusi. Ini
adalah transfusi yang ke 4, saya ikut dengan suami ke pmi tapi stock di pmi
hanya tersisa satu labu dan itu bukan darah baru, tapi udah beberapa hari, maka
kami disarankan mencari pendonor saja.
Saya kembali lagi dengan
suami ke RSUD, dan menceritakan bahwa stock di pmi tidak ada dengan harapan
perawat mau membantu kami (barangkali dalam satu rumah sakit ada perawat yang
bergolongan darah AB), jujur di RSUD kami tidak kenal siapa-siapa, jauh dari
rumah orang tua, jauh dari saudara, anak kami bergolongan darah AB, saya A dan
suami saya bergolongan darah B.
Tapi ternyata perawat
tidak bereaksi apa-apa, sementara kami khawatir kalau anak kami butuh transfusi
segera. Kami hanya duduk dipojokan (untung ga sambil garuk-garuk tembok lol).
Tanya sana sini, tidak membuahkan hasil, kami terkulai lesu di pojokan pun,
perawat seolah tak hiraukan.
Tak lama adik saya
memberi tahu bahwa teman sekolahnya bergolongan darah AB dan bersedia menjadi
pendonor, sayapun meminta bantuan temen sekolah saya yang lain yang kebetulan
sedang ada di Bandung sehingga hanya bisa menshare di grup alumni sekolah,
termasuk saya juga menshare di instagram ciamis.info dan responnya baik
Singkat cerita saya
ketemuan dengan teman adik saya, yang ternyata teman smp saya juga heheh saya
hamper tidak mengenali karena badannya jadi kurus, dan benar saja berat
badannya kurang dari 45 kg dan tidak memenuhi syarat sebagai pendonor. Tapi
saya berterimakasih sekali kepada Betty yang udah jauh-jauh mau donor buat anak
saya.
Ajaibnya, petugas PMI
yang lain menginfokan bahwa darah golongan AB baru saja masuk, sehingga darah
segar bisa diberikan, Alhamdulillah…
Tak lama, banyak yang
menelpon saya, dari mulai Mbak Hilda yang dapet info dari ig @ciamis.info dan
teman teman alumni SMA 1 ciamis dan kakak kelas saya sewaktu SMA jazakillah..
masih banyak orang baik yang tak pernah terpikirkan minta bantuan mereka,
justru yang saya harapkan bisa dimintain tolong malah mengecewakan, disitulah
saya merasa bahwa Alloh SWT benar-benar tahu apa yang ada dalam hati
masing-masing makhluk yang sebenar-benarnya, terimakasih kepada Priyanka, Hera
dan Iyus yang sudah bantu share.
Walau saya sudah
mendapatkan darah AB, tetap kontaknya saya simpan barangkali nanti membutuhkan
darah AB. Ternyata setelah mendapatkan darah tsb, darahnya disimpan dahulu
karena anak saya tiba-tiba panasnya naik. Lebih tegang lagi ketika perawat
memanggil dan menjelaskan bahwa anak saya akan d usg karena perutnya buncit,
khawatir ada kelainan.
Saya menampik apabila ada
kelainan, karena dari awal semua kondisi bayi berjalan normal, benar saja,
hasil usg menyatakan bahwa tidak ada kelainan. Hanya saja bakteri sudah
menyebar kemana-mana sehingga merusak hati dan ginjalnya. Remuk hati saya, saya
pandangi wajah bayi mungil kami (engga mungil juga sih, stelah di NICU berat
badan kembali normal, hanya saja kadang bengkak karena cairan infus, diantara
pasien premature yang lain anak kami adalah yang terbahenol kalo kata Pak Een,
pasien sebelah kami, kulitnya yang putih dan paha yang gempal sering jadi bahan
kagumannya), saya katakan “selamat sebulan anak mama”tepat tanggal 28 mei, saya
bacakan doa – doa, saya ceritakan kisah-kisah nabi-nabi saat anak-anak.
Saat nangis, anak saya
tidak terdengar suara, saya sempat nangis-nangis dibuatnya, itu karena alat
yang masuk lewat mulutnya, sehingga suaranya terganggu, saya elus-elus tangan,
pipi dan rambutnya, rambutnya yang setengah botak, dicukur hanya untuk keperluan
masuk selang infus saja, karena di tangan dan kaki sudah habis bekas infusan,
maka tak jarang anak kami di infus lewat kepala, saya pernah meminta kepada
perawat agar dicukur habis saja sekalian, karena anak kami rambutnya lebat dan
hitam ga bagus saja terlihatnya jika di cukur-cukur sedikit-sedikit seperti
pitak, tapi jawabannya hanya iya-iya saja sampai anak kami meninggal pun
Alhamdulillah yah... rambutnya tetap saja begitu, botak sebagian.
Hari itu tanggal 30 mei,
anak kami sudah dalam kondisi parah, hanya terbaring lemah, saya memegangi
tangannya, saya usap-usap kepalanya, seraya berkata :
“de, mama sama papa udah
iklhas de, mama janji ga akan nangis kalo ade diminta temenin Alloh, nanti kita
kan ketemu lagi ya de, doain mama papa nanti bisa bareng di surge sama ade”
Saya dan suami saling
berpegangan tangan, memegang tangan anak kami, kami membisikan kata-kata pasrah
kami yang sebelumnya bilang kalau ade harus kuat, mama gamau kehilangan ade,
sekarang berubah menjadi kata-kata perpisahan, walau ada sedikit rasa tidak
ikhlas namu saya harus merelakan anak kami jika sewaktu-waktu dipanggil Alloh
SWT.karena melihatnya makin menderita saya tidak tega, semua bukan salah
siapa-siapa, semua adalah kehendak Yang Kuasa. Saya hanya bisa berdoa pada Alloh
SWT agar kelak harus dipetemukan kembali dan berkumpul bersama-sama di surga.
Saat itu adalah saat saya
merasa kuat, taka da lagi menangis meronta seperti sebelumnya padahal saat itu
anak saya sedang dalam keadaan menggeliat-geliat sakaratul maut, saya hanya
tidak mau terlihat terpuruk di depan mama saya dan saudara-saudara saya, karena
jika begitu, mereka pasti akan teramat sedih. Saya berusaha tegar, saya yakin
anak kami yang tak berdosa akan bermain di taman surga. Saatnya saya
membahagiakan mereka yang masih ada, orangtua dan saudara saya, suami dan juga
saya yang harus lebih bekerja keras agar masuk surga, bukankah kita-kita ini
yang masih hidup belum tentu masuk surga? Itulah yang ada dalam benak saya,
Sayapun sempat bilang
kepada mama dan kakak ipar saya, jika ade Syira sudah tidak memungkinkan untuk
sembuh, saya minta semua ikhlas, saya sendiri akan berusaha.
Doa saya, jika anak kami
meninggal minta di ambil ketika malam hari, dalam suasana syahdu, ketika pasien
dan penunggu pasien lain tertidur, dan ya, tepat pukul 10.30 dokter jaga
memanggil kami, di monitor denyut nadi anak kami sudah tidak terdeteksi, namun
akan dicoba diusahakan dipompa tapi dokter tidak menjamin akan baik kembali,
saya dan suami hanya bersikap tenang, menjawab semua perkataan dokter dan
berterimakasih, mungkin dokter jaga saat itu kaget juga melihat ketenangan
kami, sementara dia menyampaikan informasi dengan terbata-bata terlihat gugup.
Saya membangunkan pelan
mama saya yang tertidur
“ma, coba hubungi bapak
ma, suruh kesini”
mama saya terbangun dan
tertunduk lemas,”si dede kenapa?”
“lagi di cek dokter ma,
mama panggil dulu aja bapak suruh cepet-cepet kesini”
Mama pun menelpon bapak
saya
Panggilan kedua
terdengar, dari yang sebelumnya perawat memanggil dengan menghampiri tempat
kami tidur, panggilan kedua ini seraya berteriak, sontak penunggu pasien lain
terbangun.
Kami masuk
keruangan,perawat menginformasikan bahwa sudah dipompa namun tidak ada reaksi,
dokter jaga sedang menuju kesana, saya hampiri anak saya saya pegang tangannya,
kukunya yang tampak membiru di dasar, ya saya tau, anak saya sudah ke surga.
Tak lama, dokter jaga
yang lain dari sebelumnya datang dan memeriksa anak kami, dokter setengah baya
tersebut menjelaskan bahwa anak dipastikan sudah tak bernyawa, dan bertanya
anak ke berapa?
Saya jawab anak pertama,
pertanyaan tersebut sering ditanyakan kepada kami, entah apa maksudnya, bagi
kami semua anak pertama, kedua, ketiga, tetap saja sama, tak akan berubah rasa
sayang orangtua kepada anak yang lain.
Saya menghampiri perawat
dan meminta memberishkan atau melepas alat yang menempel dengan hati-hati,
bekas plester dll agar tidak kelihatan, perawat mengiyakan, mereka mungkin
heran kenapa kami bersikap tenang, dan bisa-bisanya berkata seperti itu. Itulah
terakhir saya bisa mencereweti mereka maka saya manfaatkan agar
anak kami tahu, bahawa sampai terakhir saya melihatnya, kami akan tetap peduli
padanya.
Sambil menunggu anak kami
dilepas alat, kami kembali keruangan dan membereskan perlengkapan yang kami
bawa dari rumah mama untuk menginap, semua keluarga pasien menghampiri saya,
saya tidak berkata apa-apa, yang terdengan bapak saya yang telah datang dan
mengucapkan Innalillahi, sontak semua keluarga pasien menangis, satu persatu
merangkul saya, ada yang memeluk, memegangi kepala dan mencium tangan saya,
saya yang menahan air mata justru menangis dikala melihat semua keluarga pasien
yang telah saya anggap seperti saudara itu menangis. Satu persatu menyabarkan
saya,
Sayapun berpamitan kepada
semuanya, semua membantu kami mengangkat barang-barang untuk disimpan di mobil,
Ibu dan Bapak Een, yang
kocak, Bapak Een bekerja sebagai supir, lebih dulu anaknya dirawat karena
premature, sudah sebulan setengah mereka disana
Keluarga Wida yang kadang
bapaknya suka usil dan ibunya baik banget, pasien baru yang sudah 2 minggu,
anaknya juga premature
Ibu nia endut heheh
(karena ada 2 nama nia, nia kecil dan nia endut), ibu iis, dan ibu dan bapak
lain yang saya tidak kenal hanya suami saja yang tahu karena suami sering
ngobrol.
Tepat jam 11 malam
selesai dimandikan di RSUD kami pulang, dirumah bibi-bibi saya sudah menyambut
dengan tangis, saya dan suami telah berjanji kepada Syra tidak akan menangis,
maka kami minimalisir tangisan kami. Banyak yang menasehati kami agar tidak
terus larut dalam kesedihan, semua karena Alloh SWT yang menghendaki, di depan
insyaalloh akan ada kebaikan bila kita menerima dengan ikhlas.
Paginya, sekitar pukul 8
pagi anak kami dikebumikan, tak lama berita meninggalnya anak kamuitersebar
diantara para keluarga pasien lain yang lebih dulu pulang kerumah, ada pak RT
(disebut begitu karena paling lama menginap di RS, yaitu 2 bulan), bu nia
kecil, pak yanto (yang lebih dulu anaknya dipanggil Alloh SWT ke surga) semua
dari daerah di ciamis yang berbeda-beda, kita sering bercanda bersama sekedar
melepas kesedihan (kalau ada yag request nanti saya ceritain deh satu-satu
tingkah lucu bapak-bapak dan ibu-ibu di RS heheh)
selamat jalan sayang…
kadang mama dilanda rindu, papa juga pasti rindu (laki-laki hebat yang
tangisannya tak terlihat tapi selalu cepat tanggap memeluk mama dalam keadaan
terpuruk) Mama Papa harus iri kepada Syra yang bisa langsung ke surga tanpa
hisab, mama yakin ade Syra disana sedang bersenang-senang, giliran kami
memantaskan diri agar kelak berhak dijemput disana,tinggal bersama di rumah
yang telah ade bangunkan di surga untuk kami, tunggu kami di Surga ya nak., ♥♥♥
0 komentar:
Posting Komentar